Petani Manggis Dan Durian Hadapi Panen

Salah satu Pohon Manggis Milik warga ( Foto : Dokumen Desa )

PapayanpPOL – Selama ini, Kabupaten Tasikmalaya wilayah selatan dikenal sebagai penghasil buah manggis kualitas bagus, hingga bisa mengekspor ke sejumlah negara dalam jumlah banyak. Pada musim kemarau kali ini, para petani manggis sudah siap-siap menghadapi panen usaha taninya. Desa Papayan merupakan daerah  penghasil  produk unggulan di Kabupaten Tasikmalaya, yakni buah durian dan manggis yang saat ini sedang berbuah Insya Alloh dalam waktu 2 bulan masyarakat akan menikmati hasil panen tersebut.

“Musim kemarau justru saatnya panen manggis bagi para petani. Sebab, tanaman manggis biasa berbuah pada saat mulai musim kemarau, hingga dua bulan kemudian sudah bisa dipetik,”ungkap Ali Ibrohim , warga Kp Cihaur Desa Papayan

Kalau lagi musim panen manggis dan Durian , menurut Ali , para pedagang di sepanjang Jl.Raya Papayan –  Jatiwaras  akan terlihat menjajakan buah Durian dan  manggis di kios-kiosnya. Harga buah manggis yang dijual para pedagang itu pun relative murah, misalnya untuk satu gantung berisi 10 buah, harganya berkisar antara Rp.7.500 sampai Rp.10.000.dan Harga durian berkisar antara 20.000 sampai 50.000 tergantung besar dan kualitas buahnya

“Bahkan, kalau sedang musim panen raya, harga buah manggisatau durian  di sini sangat murah. Apalagi kalau kita membelinya langsung dari para petani,”tuturnya.

Namun yang menjadi kendala di masyarakat adalah  Permodalan dan pemasaran menjadi sebuah persoalan yang tak kunjung ketemu. Disamping itu kendala berat yakni merubah paradigma petani itu sendiri, kebanyakan petani masih terbelenggu pada produk petani sub sistem, yakni petani yang serba instan, bukan sebagai petani modern.

Sedangkan hasil dari sebuah pekerjaan dalam peningkatan perekonomian harus memiliki management yang matang. Jarang petani yang berorientasi ke bisnis atau masa depan.

Menurut  Endang Mulyana ( Sekdes Papayan )  , untuk merubah paradigma petani memang bukan hal mudah, perlu motivasi semua pihak. Taraf kesejahteraan para petani khusunya dari hasil produksi manggis selama ini belum membuahkan hasil maksimal. harga manggis yang dihasilkan petani didaerahnya masih ditentukan para tengkulak. ” Harga masih belum stabil, secara perhitungan bisnis selalu merugi”, ungkap Endang

Secara kalkulasi bisnis lanjut aco, mulai dari biaya awal panen sampai menuai hasil panen, dan waktu yang di keluarkan petani tidak seimbang, harga selalu merosot.

” Disamping mereka gelap tentang harga manggis dipasaran, mereka juga terikat kontrak sehingga mereka terpaksa menjual hasil panen ke para bandar atau pengepul yang memberi modal dan harga pun ditentukan dari sana”, ungkap Endang .

Guna mengantisipasi masalah permodalan, dirinya berencana bekerjasama dengan  Bumdes.

“Secara teknisnya nanti, bisa dibayar setelah panen atau hasil panen manggis di jual ke Bumdes dengan harga layak, sehingga para petani tidak terus merugi”, pungkasnya.(09/01/18)

 

Facebook Comments