Makam Bumi Rongsok

foto : Gerbang Makam Bumi Rongsok (By Arie)

Nama Bumi Rongsok  diberikan oleh Eyang Dalem Bagus Nayadimantri, mengandung arti gafura masuk tanah yang subur ( bumi = tanah, rongsok = subur /sunda), terletak di dusun Demunglandung Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras, ± 19 km dari pusat kota Tasikmalaya, pada 269,7m, kordinat S.07º 27. 869′, E 108º  12. 376′

Eyang Dalem Bagus Nayadimantri adalah seorang ulama dari Banten yang dianggap berjasa dimasa hidupnya dalam menyebarkan agama islam, Beliau datang dari Banten bersama dengan pengikutnya
sekitar tahun 1700. Pada waktu itu Banten sedang dilanda peperangan antara rakyat Banten dengan Belanda untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Beliau pergi meninggalkan Banten bermaksud untuk mencari tempat sebagai pemukiman yang baru, diantara pengikutnya ialah Sumapatra, Sumanegara dan Siti Saroh satu-satunya wanita yang dibawa beliau menyertai rombongan.
Beliau berkeyakinan wilayah yang akan di tempat penyebaran agama Islam belum mengenal ajaran agama islam, pada saat itu masyarakat disana memeluk agama Hindu, dengan dibantu oleh beberapa orang pribumi yakni Embah Naya, Eyang Atna, Embah Rangga dan Uing Enok. Dalem Bagus Nayadimantri mengawali mengajarkan agama islam terhadap warga yang hidup disekitar Bumi Rongsok.
Berbagai peninggalan dan bukti adanya peradaban masa lampau di situs Bumi Rongsok, antara lain :
1. Pekuburan:
– Luas aArea pekuburan 33m2 x 32,5m2 = 1.072,50m2
– Luas areal seluruhnya 25.500m2
– Luas kolam 500m2
– Luas makam Cipetir 900m2
– Jumlah makam yang ada 45 makam
2. Batu/menhir, antara lain :
– 1 buah batu/menhir dekat makam Dalem Bagus,  konon dahulu
  berfungsi sebagai tempat menampung air.
– 1 buah batu panjang yang dalu dipergunakan tempat sembahyang.
3. Berbagai jenis pusaka, seperti tumbak, pedang, keris, pisau, golok, bokor dan cincin, sekitar tahun 1928 terjadi kebakaran di ibu kota desa(sekarang desa kolot) mengakibatkan seluruh benda pusaka tersebut ikut terbakar.
Bumi Rongsok selain merupakan sebuah situs juga merupakan suaka alam dan marga satwa, karena dilokasi tersebut selain terdapat peninggalan sejarah berupa situs, terdapat peninggalan suaka alam seperti pohon yang cukup besar dan berusia ratusan tahun, serta binatang2, kera, lutung dan kaluang (kalong=sunda)
Sumber :Disparbud Kab. Tasikmalaya
Facebook Comments